View

Boosting Sociopreneurship

peace

Bagaimana kombinasi antara social dan entrepreneur itu? Apakah pengusaha yang berjiwa sosial atau aktivis sosial yang jadi pengusaha? Sebenarnya, social entrepreneur itu memang semacam ‘mahluk hybrid’. Wirausaha sosial atau social enterprise/entrepreneur umumnya merujuk pada orang/organisasi/lembaga yang memiliki tujuan sosial/lingkungan hidup yang jelas, menggunakan kegiatan ekonomi/usaha untuk mencapai tujuannya (sebagian besar pendapatannya digunakan untuk mencapai tujuan tersebut).

Di Eropa, wirausaha sosial yang dianggap terbaik adalah yang dikelola secara demokratis (pengambilan keputusan melibatkan berbagai pemangku kepentingan) untuk memastikan akuntabilitasnya. Jadi fokusnya lebih kepada organisasinya (enterprise) dan bukan pelakunya (entrepreneur).

Gerakan kewirausahaan sosial itu sudah jadi fenomena global. Saya pertama kali semangat mempelajari wirausaha sosial ketika tahu bahwa Barcelona FC dan Bayern Munchen dikelola sebagai social enterprise (bentuknya koperasi) dan memiliki tujuan sosial yang kuat. Jadi bukan hanya prestasi mereka yang luar biasa sebagai klub yang punya sejarah prestasi segudang, ternyata mereka juga dikelola untuk kepentingan anggota koperasi mereka (fans) yang merupakan mayoritas pemilik sahamnya.

Sejak saat itu, saya berpikir bahwa mungkin kewirausahaan sosial adalah salah satu alternatif solusi bagi beberapa masalah besar di Indonesia. Coba bayangkan bagaimana kalau klub sepakbola di Indonesia berstruktur koperasi fans? Tapi apakah sebenarnya wirausaha sosial yang katanya fenomena global ini dapat cocok dan berkembang di Indonesia?

Indonesia sebenarnya punya sejarah panjang aktivitas social enterprise. Bahkan sebelum kemerdekaan, banyak organisasi dan kegiatan yang bisa dikategorikan sebagai social enterprise. Serikat Dagang Islam, Sekolah Kartini, Taman Siswa, Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama dikatakan mewakili social enterprise/wirausaha sosial yang dirintis pada periode 1895-1945.

Saya sepakat bila organisasi-organisasi tersebut dikatakan sebagai pionir kewirausahaaan sosial di Indonesia, karena mereka didirikan dengan tujuan sosial yang kuat (pendidikan, kesejahteraan masyarakat) dan mendanai kegiatan sosialnya lewat kegiatan ekonomi/usaha yang serius.

Pasti tidak banyak yang tahu bahwa ternyata wirausaha sosial di Indonesia memiliki andil yang tidak kecil dalam mempersiapkan bangsa Indonesia untuk merdeka. Jadi bisa dikatakan bahwa wirausaha sosial adalah sebenarnya sesuatu yang ‘Indonesia Banget’.

Sampai saat ini pun sebenarnya wirausaha sosial masih berkembang di Indonesia. Salah satu contoh yang saya kagumi adalah Perkumpulan Telapak. Mereka merupakan perkumpulan aktivis lingkungan hidup yang mendirikan Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL) di Konawe Selatan .

Awalnya Telapak berjuang untuk mengatasi pembalakan liar melalui advokasi dan investigasi secara konvensional. Merasa kurang efektif, melalui KHJL, mereka adopsi teknik penebangan lestari yang disertifikasi oleh lembaga internasional. Melalui sertifikasi tersebut, harga kayu meningkat drastis dan mempengaruhi kesejahteraan para anggotanya. Sekarang, anggota KHJL secara sadar menjaga dan mengelola hutan mereka. Pola pengelolaan hutan lestari ini sekarang direplikasi di Jawa Tengah, Sumatera, Kalimantan dan Papua.

Selain itu, Telapak juga memiliki berbagai inisiatif wirausaha sosial lain, seperti stasiun televisI dan radio. Bahkan juga mengembangkan wisata berbasis budaya dan ekologi. Stasiun televisi dan radio awalnya didirikan untuk advokasi isu sosial dan lingkungan hidup, sekarang berkembang menjadi perusahaanTVv dan radio daerah. Sedangkan usaha ekowisata dan wisata budaya, dikembangkan untuk tumbuhkan ekonomi berbasis masyarakat namun tetap berkontribusi pada pelestarian budaya tradisional dan lingkungan hidup.

Sekarang, informasi tentang gerakan kewirausahaan sosial di Indonesia sangat mudah ditemukan. Berbagai organisasi di Indonesiaseperti Ashoka Indonesia Asosiasi Kewirausahaan Sosial Indonesia (AKSI) dan British Council Indonesia dapat dijadikan rujukan. Masing-masing memiliki program yang bagus untuk mendukung kewirausahaan sosial di Indonesia di berbagai kalangan (anak muda, masyarakat pedesaan, sekolah islam, dan sebagainya.

Bahkan pihak korporasi dan BUMN juga mulai mengembangkan inisiatif mendukung wirausaha sosial sebagai bagian dari program CSR mereka. Salah satu contohnya adalah Bank Mandiri dengan program Mandiri Bersama Mandiri-nya, sebuah upaya untuk mencari dan mendukung wirausaha sosial di berbagai penjuru Indonesia.
Melalui perkembangan wirausaha sosial di Indonesia yang cerah, maka timbul keyakinan bahwa ini merupakan alternatif yang bagus dan efektif, bukan hanya untuk atasi masalah-masalah yang kita hadapi tapi juga optimalkan potensi Indonesia, tanpa terlalu bergantung pada donatur.
Semoga Anda setuju dan tidak berhenti hanya di situ. Mari mulai cari tahu informasi lebih banyak tentang kewirausahaan sosial bagaimana kita bisa mendukung mereka!

Fajar Anugerah │@fajaranugerah Program Manager at Global Entrepreneurship Program Indonesia

Transformasi Pengelolaan Hutan Melalui Konglomerasi Sosial

Silverius

Silverius Oscar Unggul
Vice President Perkumpulan Telapak 2007-2012

Kepribadiannya yang hangat dan bersahabat , lekat dalam sosok satu ini. Lahir di Nusa Tenggara Timur, ia lebih dikenal dengan sapaan Bang Onte (orang NTT). Peraih Young Global Leader 2009 ini tak menyerah untuk membentuk community logging, sebuah sistem pengelolaan hutan yang berbasis masyarakat dan berpijak pada kelestarian hutan.

“Keadaan hutan Indonesia sudah sangat parah, kita kehilangan sekitar 2,5 juta hektar setiap tahun. Penyebab utamanya karena selama ini masyarakat lokal yang sangat dekat dengan lingkungan hutan tidak pernah diberikan kesempatan untuk mengelola hutan mereka karena kebijakan pemerintah yang lebih pro pada pengusaha hutan skala besar yang menepatkan pendekatan ekonomi diatas segalanya,” tutur Bang Onte menyatakan kekhawatirannya.
Tekadnya untuk melindungi hutan dibuktikan dengan mengembangkan Perkumpulan Telapak, yang berkembang menjadi unit bisnis meliputi Kotahujan.com, Gekko Studio, T-port, Koperasi Telapak, Poros Nusantara, Poros Nusantara Media, Telapak Printing, Kedai Telapak, dan lainnya. Apresiasi terhadap dedikasinya diberikan melalui Penghargaan Social Entrepreneur of The Year 2008 Ernst and Young 2008.
Masyarakat mengalami transformasi, perubahan yang luar biasa dengan adanya sistem yang dibuat Perkumpulan Telapak. “Kami menyebutnya konglomerasi sosial, “ jelas Bang Onte, yang kini tengah menjabat pula sebagai Vice President Perkumpulan Telapak. Dahulu, masyarakat hanya menjadi pesuruh cukong illegal logging yang mencuri kayu di hutan. Perkumpulan Telapak kini mendampingi masyarakat menjadi pebisnis kayu dengan cara yang legal.

Kegiatan Perkumpulan Telapak diantaranya membuat jaringan TV lokal, bermula dari video investigasi hutan, dan liputan mengenai orang binaan Telapak. Ternyata setelah berjalan, stasiun TV mendatangkan keuntungan, dan akhirnya menjadi bisnis tersendiri. Hal tersebut menjadikan bisnis ini dalam kategori social enterpreneur, karena bisnis yang lahir di Telapak ini justru lahir untuk mengatasi persoalan-persoalan sosial awalnya. Kini telah dibangun TV Kendari, Palu, Buton, dan stasiun berita Kota Hujan di Bogor, Gurindam 12 di Riau.

Dalam perjalanannya, Bang Onte menemui hal yang menarik. “ Saya terkesan ketika melihat para pelaku illegal logging mempunyai keinginan dan harga diri untuk kembali hidup dalam masyarakat mereka,” tutur Bang Onte.

Ia pun memotivasi untuk generasi muda.” Kita butuh perubahan yang luar biasa dalam pendekatan ekonomi. Bukan hanya memikirkan keuntungan materi semata. Hanya anak-anak muda yang bisa membuat pendekatan ekonomi lewat social entrepreneur hingga bisa berkembang di Indonesia,”.

Melejitkan Kepemimpinan dan Inisiatif Lokal

goris

Goris Mustaqim

Founder Asgar Muda Garut

Karakter kepemimpinanya dibuktikan dengan menjadi profesional dan sociopreneur. Masalah sosial ia sikapi sebagai peluang untuk memberdayakan orang banyak. Pria yang mendapat kesempatan menjadi panelis termuda dalam Presidential Summit on Entrepreneurship oleh Barrack Obama ini pun terus memotivasi generasi muda dengan berbagai karyanya.

Bidang sociopreneur yang digeluti Goris Mustaqim ada tiga, yakni pendidikan, kewirausahaan pemuda, dan community development yang terangkum dalam Asgar Muda di Garut. “Beberapa wirausahawan muda lokal yang kami inkubasi sudah sukses memajukan bidang kerajinan kulit kualitas ekspor, mengembangkan peternakan sapi dan domba garut, dan akar wangi,” tutur pria kelahiran 14 Maret 1983 ini. “Sementara, bidang Community Development kami mendirikan microfinance atau Balai Usaha Mandiri Terpadu, koperasi akarwangi, dan usaha lainnya,” tambah Goris.

Mengembangkan potensi lokal memang menjadi motivasinya.” Saya sangat bahagia ketika anak-anak muda bisa berkembang usahanya mengembangkan potensi lokal, dengan itu mereka bisa berdaya dan membantu orang lain. Kepuasan yang tak terlukiskan ketika kita bisa membantu ratusan UKM, pedagang pasar dengan akses ke modal dana pengembangan usaha. Hal itu membuat kami semakin tertantang mengembangkan kewirausahaan sosial yang sedang dijalani sekarang,” demikian Goris menyatakan kesannya terjun di bidang ini. Rencana dalam waktu dekat, ia akan launching gerakan investasi pohon yang merangkul petani untuk melakukan tumpang sari pohon dalam waktu lima tahun, sehingga mereka memiliki tabungan sangat besar saat panen. Selain melestarikan lingkungan, cara ini memiliki dampak ekonomi sangat besar serta melahirkan para ecopreneur muda, yaitu para relawan pohon pendamping petani.

Goris telah merilis buku Pemuda Membangun Bangsa dari Desa mengenai kegiatan Asgar Muda yang dirintisnya tahun 2007. “Kami sudah bisa sedikitnya membangun kemandirian masyarakat dan membimbing para pemuda menemukan potensi dan jalan untuk sukses. Terhitung lebih dari 1000 orang pelajar yang kami bimbing di Supercamp sehingga mereka bisa menembus PTN favorit dan yang tidak mampu kami bantu beasiswanya,”

Pemuda yang didaulat sebagai Asia’s Best Young Entrepreneur oleh salah satu media internasional ini berpendapat bahwa menjadi sociopreneur berarti memandang masalah sosial sebagai peluang untuk memberdayakan orang banyak. “Tentunya karakter tersebut merupakan salah satu ciri dari pemimpin masa depan,” tutup suami dari Paramitha Mentari ini. (*)

Mengoptimalkan Solusi Microfinance

Leon

Leonardo Kamilius

Managing Director Koperasi Kasih Indonesia

Microfinance menjadi salah satu tool yang efektif untuk mengurangi kemiskinan. Konsep yang dipelopori oleh Muhammad Yunus ini menginspirasi Leonardo Kamilius mendirikan Koperasi Kasih Indonesia (KKI). Ia pun akhirnya menanggalkan dunia profesional dan beralih menjadi pengusaha sosial.
Bagi sosok satu ini, menjadi sosiopreneur merupakan panggilan jiwa setelah memetik hikmah saat membantu korban bencana alam di Padang 2009 silam. Bulan Januari 2011, Leon mendirikan Koperasi Kasih Indonesia (KKI) di daerah Cilincing, Jakarta Utara. Metode pinjaman modal usaha KKI ini diibaratkan ikan dan kail, dimana masyarakat dipancing untuk melakukan usaha. “Kami tidak sebatas meminjamkan modal kepada masyarakat tanpa adanya binaan dan pengawasan terhadap pinjaman. Karena kami ingin mengubah pola pikir masyarakat kurang mampu agar tidak menjadi pengemis. Beda halnya dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang hanya memberi pinjaman tanpa adanya pengawasan dan pembinaan,” kata Leon. Saat ini, anggota KKI sekitar 350 orang dengan menargetkan pertumbuhan anggota sebanyak 2.000 orang.
Pria kelahiran 28 Juli 1985 Jakarta ini menjelaskan, Saat ini KKI hanya meminjamkan modal kepada masyarakat berpenghasilan Rp 20.000/harinya dengan bunga 0,5 %. Peminjaman modal ini tidak dilakukan perorangan, tapi perkelompok, minimal 15 orang dan maksimal 25 orang, Ketika ada 1 orang tak membayar utang, maka ke-14 orang dalam kelompok itulah yang akan menanggung utangnya.
Menurut Leon, selain memberikan pinjaman modal usaha, KKI juga tengah mengupayakan anjuran kepada anggotanya untuk menabung. Namun, dalam pelaksanaanya tidak mudah, karena tingkat kesadaran menabung anggotanya sangat rendah, oleh karena itu ia harus melakukan penjelasan kepada anggotanya sampai paham manfaat dari menabung.
Lulusan Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini memaparkan bahwa di Indonesia bisnis sosial masih sangat terbuka lebar. Misalnya seperti bidang pendidikan dan kesehatan . Di Indonesia, masyarakat masih kesulitan untuk memenuhi kedua kebutuhan tersebut karena biaya mahal. “Buktinya masyarakat miskin tidak bisa mengenyam pendidikan berkualitas dan mendapatkan pelayanan kesehatan. Kondisi yang sangat berbeda dibandingkan kehidupan masyarakat mapan. Ini merupakan peluang besar bagi pemuda Indonesia untuk menjadi sosiopreneur di tanah air. Menjadi sosiopreneur pun pilihan yang membanggakan, karena mampu meringankan beban orang lain sekaligus mendapatkan income,” jelas Leon yang berharap KKI memiliki anggota dari Sabang sampai Marauke. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s